Surat Kabar 36: Menata Isi Kepala

 


Awal 2025,


Setelah ditelaah kembali, penyebab tidak bisa tidur malam kemarin ternyata bukan hanya suara keramaian di luar, tetapi keramaian di isi kepala. Pikiran-pikiran itu terlalu gaduh, mengalahkan suara kembang api, musik yang kacau, dan tetangga karaoke dengan nada seenaknya. Dan, ternyata ada penyebab lain juga yang lebih menjengkelkan: alergi.

Ya, malam itu tubuhku ikut-ikutan protes. Gatal-gatal muncul tiba-tiba seperti ingin berkata, “Oh, kamu nggak bisa berhenti overthinking? Nih, tambahin gatal biar seru!”

Di tengah malam yang tak kunjung reda, aku mulai merenung. Pikiran-pikiran yang muncul seperti mengadakan rapat tanpa izin—hal-hal yang kusesalkan, yang belum tercapai, dan yang mungkin tak akan pernah kudapatkan, berkumpul jadi satu kesatuan.

Namun, di balik bisingnya kepala, akhirnya kusadari satu hal yang selama ini kusimpan rapi: lelah karena menjadi pondasi bagi sekitar, sementara diriku bahkan tak diberi kesempatan untuk retak. Aku menyadari, karena mencoba terus "berfungsi", pada akhirnya tak pernah benar-benar memberi ruang untuk diriku berhenti sejenak.

2024 menjadi tahun yang punya beragam plot twist yang kadang mengejutkan. Namun, di balik semua itu, aku menyadari ada hal yang patut disyukuri. Seperti momen-momen sederhana, berbagi langkah kecil dengan seseorang—yang mengingatkan bahwa aku pun berhak merasakan sandaran.

Aku merenung kembali tentang hal ini pagi tadi. Dalam hati aku bertanya: kapan terakhir kali aku benar-benar bermimpi? Jawabannya: aku sudah lama berhenti punya mimpi. Dulu, aku adalah seseorang yang penuh dengan ambisi dan rencana besar. Tapi entah sejak kapan, aku mulai menyerah pada mimpi-mimpiku sendiri. Hidup tidak pernah sesuai rencana.

Sejak saat itu, kubiarkan Allah membawaku pergi ke takdir mana pun yang Dia kehendaki.

Aku membuka galeri foto di ponsel, berharap menemukan sesuatu yang bisa mengingatkan bahwa hidup memiliki berjuta warna. Ada foto makanan yang tidak jelas, tangkapan layar barang diskon yang akhirnya tidak kubeli, dan foto-foto momen kecil yang terasa jauh lebih berarti ketika dilihat kembali. Ada beberapa foto yang menunjukkan kedekatan dengan teman-teman lama—meski sekarang tampak asing. Ada juga foto-foto perjalanan yang pernah kulakukan dengan teman terdekat, yang dulu terasa biasa saja tapi sekarang tampak penuh makna.

Namun, di sela-sela itu, ada juga foto-foto lama yang membuatku bertanya, “Kenapa aku masih simpan ini?” 
Maka, aku mulai menghapus foto-foto yang sudah tak lagi berarti itu. Anehnya, dengan melakukan itu, rasanya lega seperti melepaskan beban kecil yang tak kusadari selama ini.

Tahun baru ini aku ingin menyambut hidup dengan lebih sederhana. Tidak perlu resolusi besar seperti “menjadi versi terbaik diri sendiri” karena, serius, versi saat ini saja kadang sudah susah diatur. Yang penting, aku ingin lebih hadir di momen-momen kecil, lebih banyak tertawa, dan lebih sedikit overthinking. Kalau pun gagal, setidaknya aku ingin mencoba memaafkan diriku sendiri—cukup.

Aku ingin melepaskan hal-hal yang tak lagi bermakna, seperti foto-foto lama yang hanya menghabiskan ruang penyimpanan, dan memberi lebih banyak ruang memori untuk hal yang benar-benar penting—terutama bagi orang-orang yang kuanggap berharga.

Meskipun aku sudah berhenti bermimpi, tetapi bukan berarti aku menyerah pada hidup. Aku hanya ingin belajar percaya pada perjalanan ini, percaya bahwa Allah tahu ke mana Dia hendak membawaku. Aku tak lagi memaksakan diri untuk terus berlari mengejar sesuatu yang belum tentu untukku. Sebaliknya, aku ingin belajar menikmati langkah kecil yang saat ini bisa kuambil.


Selamat memasuki tahun baru. Semoga lebih ringan—tidak memusingkan!

Postingan Populer