Surat Kabar 37: Melampaui Kaca Jendela
9 Januari diiringi sedikit gerimis,
Jika sebelumnya aku melihat segala sesuatu dari sebatas kaca jendela, kini aku melihat segala sesuatunya berdasarkan yang tampak.
Duniaku adalah dunia yang sempit. Pandanganku hanya sejauh apa yang diizinkan oleh bingkai itu—segalanya terlihat terbatas, seperti hujan yang tak pernah kukenal basahnya, seperti potongan kecil kehidupan yang terputus dari keseluruhannya.
Segala sesuatu tentang hidupku diukur dari apa yang bisa kuberikan dan apa yang bisa kuselesaikan. Aku diajarkan untuk menjaga kaca jendela tetap utuh, seolah retakan adalah hal yang tak akan termaafkan. Maka, aku menahan semuanya—kata-kata yang ingin keluar, perasaan yang ingin tenteram, dan mimpi yang ingin bebas.
Kini, dari langit-langit kota, segalanya terasa berbeda. Di sini, aku berdiri di ambang jarak yang membentang. Lampu-lampu rumah berkerlip seperti bintang kecil yang mencoba menatapku, jalanan di bawah sana seperti terjahit tak berujung, dan gedung-gedung tinggi menjulang seperti penjaga yang diam mengawasi malam. Tidak ada lagi batas kaca yang membingkai pandanganku. Dunia kini tampak luas, tak bertepi, dan nyata—meski dari kejauhan.
Jarak ini seperti ruang di antara kenyataan dan mimpi, di antara apa yang kumau dan apa yang kurasakan. Tapi, berbeda dari dulu, aku tidak lagi ingin sekadar berdiri dan melihat.
Langit-langit kota ini adalah tempat di mana segala beban yang dulu kurangkul mulai kulepaskan. Aku menyadari, kaca yang retak bukanlah ancaman, melainkan ruang bagi cahaya untuk masuk, tempat perasaan bisa bernapas. Dulu, aku memaksa diriku untuk tetap utuh, tetapi kini aku memahami bahwa retakan adalah cara untuk tumbuh.
Aku tidak lagi hanya ingin menjadi penonton yang berdiri dari jauh. Kata-kata dan pikiran yang selama ini kutahan akan kulepaskan, membaur mengikuti angin malam.
Sebelumnya, aku adalah bagian kecil dari roda yang terus bergerak, kehilangan bentuk dan makna dalam putaran tanpa akhir. Tapi kini, aku adalah langit yang luas, tempat semua yang pernah terpendam menemukan jalannya. Dari langit-langit kota ini, aku tidak hanya belajar melihat, tetapi juga memahami, menerima, dan akhirnya, menyatu dengan kehidupan.
Namun dari kejauhan ini, aku menyadari sesuatu. Dunia yang kulihat dari langit-langit kota ini mengajarkanku bahwa melihat dengan jelas tak selalu berarti mendekat. Jarak ini menyelipkan makna lain: meski aku bebas memandang, aku belum benar-benar menyentuh.